Marjoni Imamora, sang Doktor Fisika Nakhodai IAIN Batusangkar

By Doni Okta 07 Sep 2020, 11:38:28 WIB Akademik
Marjoni Imamora, sang Doktor Fisika Nakhodai IAIN Batusangkar

IAIN Batusangkar-Rela akur dengan takdir, membuat Marjoni Imamora sukses menyelesaikan program doktoral Ilmu Fisika di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sebelumnya Marjoni muda ingin melajutkan pendidikan kedokteran atau Akademi militer. Mungkin takdir pulalah yang mengantar sang Doktor ini menjadi salah satu rektor termuda yang memimpin sebuah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Setelah dilantik Menteri Agama pada tanggal 23 Juli 2020 Dr. Marjoni Imamora resmi pimpin IAIN Batusangkar.

Dilahirkan 43 Tahun silam tepatnya 1 April 1977, Marjoni Imamora menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kampung halaman Sungai Geringging, kabupaten Padang Pariaman. Putra dari bapak Bagindo Ali Umar (Almarhum) dan ibu Hj. Cherana Binti Hene ini melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Negeri Padang jurusan ilmu fisika murni. Program master dan doktoral dibidang ilmu fisika diselesaikan di Universiti Kebangsaan Malaysia. Saat ini Marjoni dan istri Fitri Yenni, M.Sc yang berprofesi sebagai guru fisika dan wakil kepala bidang kurikulum SMP IT Qurrota A’yun ini dikarunia seorang putra yang bernama Miftahul Farid Rafi Marjoni Imamora.

Sebelum menjadi rektor Dr. Marjoni memulai pengabdian di IAIN Batusangkar sejak 2008. Marjoni berusaha mensinergikan pengalaman pendidikan para dosen yang dari beragam almamater untuk menciptakan iklim pendidikan yang lebih baik di IAIN Batusangkar.

“Saya bersyukur dapat menimba ilmu di UNP Padang. Kampus besar di Sumatera Barat yang dikenal secara nasional dan international. Saya masuk UNP tahun 1997 tahun pertama transformasi IKIP Padang menjadi UNP dengan Jurusan Fisika Murni atau non kependidikan. Berbekal pengetahuan dari almamater saya serta pengalaman bapak-ibu dosen yang lain di IAIN Batusangkar dengan berbagai background pendidikan dan almamaternya, secara bersinergi bisa melahirkan iklim pendidikan yang modern, profesional, integratif (keilmuan dan keislaman) serta tetap mengedepankan kearifan lokal”.tutur rektor.

“IAIN Batusangkar yang terletak di pusat kebudayaan Minangkabau diharapkan dapat menciptakan nuansa pendidikan yang Islami, modern namun tetap menjaga kelestarian Minangkabau itu sendiri. Alhamdulillah, Kita memiliki Jurusan Parawisata Syariah, diharapkan ini menjadi media untuk memperkenalkan generasi muda tentang budaya Dan pariwisata Minangkabau yang syarat dengan nilai-nilai keislaman”.sambungnya.

Selain itu dengan pengalamannya pernah menempuh pendidikan disalah satu kampus international di Malaysia, Marjoni berusaha mewujudkan visi IAIN Batusangkar menjadi kampus bereputasi internasional yang berkearifan lokal.

“Pengalaman menempuh Pendidikan di luar negeri yang pada umumnya berbentuk universitas riset secara bersama-sama dengan bapak-ibu dosen yang lain membekalkan para pendidik di IAIN Batusangkar untuk berpengalaman dan secara bersemangat mewujudkan kampus ini menjadi perguruan tinggi yang bereputasi global.”jelas Marjoni.

Dosen IAIN Batusangkar, sudah sejak lama memiliki karya-karya yang publish di jurnal international Bereputasi (terindeks di Scopus, WoS). Alhamdulillah IAIN Batusangkar juga memiliki sdm dosen yang menjadi finalis dosen teladan nasional bidang keagamaan (Dr. H. Syukri Iska, M.Ag) serta Juara 1 Dosen teladan nasional bidang sains dan teknologi (Dr. Marjoni Imamora, M.Sc) tingkat Kemenag RI tahun 2015. Ditambah lagi prestasi-prestasi lain dibidang hukum dan humaniora. Dengan potensi ini semua insya Allah kita yakin seluruh civitas akademika dan Warga kampus sudah melek publikasi Internasional Dan Nasional yang dibutuhkan kampus ini menuju visinya menjadi kampus yang bereputasi global,”terangnya.

Marjoni pun melihat peluang dari program kampus merdeka yang baru diluncurkan pemerintah untuk memberikan warna baru dalam suasana pendidikan dikampus.

“Program Pemerintah tentang Kampus merdeka setidaknya mengusung empat kebijakan utama. Keempat kebijakan ini memiliki pengaruh yang positif di perguruan tinggi khususnya di IAIN Batusangkar. Akreditasi dapat diperpanjang sejauh tidak adanya penurunan kualitas dan jika menginginkan peningkatan level akreditasi dapat diajukan reakreditasi. Kebijakan untuk hak Belajar tiga semester diluar prodi juga akan mampu menambah kompetensi mahasiswa diluar keilmuannya. Kalau kebijakan kemudahan kampus mendirikan prodi baru secara mandiri akan lebih sesuai diberikan ke Universitas yang sudah berstatus PTN-BH atau kampus-kampus yang secara manajemen dan akreditasi serta dukungan Keuangan yang sudah matang”.pungkasnya.

Saat ini IAIN Batusangkar mempersiapkan diri untuk alih status menjadi Universitas Islam Negeri. Sinergitas dengan pemerintah daerah dan masyarakat Sumatera Barat mutlak diperlukan. Marjoni memposisikan dirinya sebagai estafet yang baik dan profesional. Strategi dari pimpinan yang sebelumnya akan dilanjutkan yaitu pemantapan kesiapan di internal kampus baik SDM, sarana prasarana, administrasi yang paripurna meliputi dokumen-dokumen yang mengambarkan kondisi IAIN Batusangkar dalam naskah akademik. Selanjutnya percepatan proses pembahasan di internal Kementerian Agama melalui pertemuan-pertemuan dengan pejabat-pejabat tinggi yang terkait di Kementerian Agama RI di Jakarta, sampai mendapatkan persetujuan dari Menteri Agama untuk selanjutnya diusulkan ke Menpan RB.

“Alhamdulillah, diawal September 2020 ini Kita akan presentasi di kemenag dihadapan para asesor untuk menilai kelayakan IAIN Batusangkar menjadi UIN Batusangkar. Hal ini akan diikuti dengan visitasi ke IAIN Batusangkar. Mohon doa dan dukungan kita semua, semoga presentasi dan visitasi berjalan lancar dan mendapatkan nilai yang melayakkan IAIN bisa menjadi UIN. Jalinan komunikasi secara eksternal melibatkan pimpinan daerah, pemprov, dan tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Sumatera Barat juga akan terus dijalin. Komunikasi ini setidaknya memberikan informasi sehingga sama-sama bersemangat memberikan dukungan yang sesuai dengan kapasitas masing-masing tokoh untuk mewujudkan keinginan IAIN Batusangkar bertransformasi menjadi UIN Batusangkar,” harap marjoni.

Sebagai tamatan dari jurusan Fisika, dan mengabdi di perguruan tinggi Islam menjadi momen bagi Marjoni untuk mengintegrasikan keilmuan Fisika dengan nilai-nilai keislaman. Fisika atau sains dan teknologi itu diperlukan dalam perguruan tinggi Islam. Integrasi ini sekaligus memberi jawaban bahwa tidak ada dikotomi keilmuan.

“Generasi muda sekalian harus mulai menyadari Dan mewujudkan secara sungguh-sungguh bahwa sebagai muslim kita juga harus melek dan pakar dengan sains – teknologi. Opini yang selama ini berkembang bahwa Islam itu adalah Kajian mahasiswa dari perguruan tinggi agama, dan sains – teknologi serta humaniora itu adalah milik perguruan tinggi umum perlu diperbaiki. Sebagai Muslim, apapun keilmuan Kita, mempelajari kajian Islam adalah fardu a’in yang harus dilalui masing-masing secara individu. Kepada seluruh generasi muda, anak dan kemenakan saya semua dalamilah sains dan teknologi, humaniora itu secara serentak dengan ilmu agama di perguruan Agama seperti IAIN Batusangkar. insyaAllah dunia Kita peroleh, dan akhirat pun langsung Kita persiapkan,”tutur Marjoni

“Fenomena terkini yang terjadi, siswa MIPA di SMA/MA begitu milih Jurusan diperguruan tinggi malah hijrah ke Jurusan non MIPA. Sangat disayangkan, jumlah ananda sedikit tapi “nyebrang” pula ke non IPA, lalu jurusan sains dan teknologi akan kelangkaan mahasiswa. Padahal jurusan non MIPA tidak bisa memasuki jurusan yang ada di sains dan teknologi. Sekali lagi saya menghimbau generasi muda sekalian khususnya yang berasal dari MIPA, tekunilah keilmuan anda tsb, karena ilmu ini secara nyata juga mengajarkan tentang tauhid melalui eksperiment yang seterusnya sesuai dengan firman Allah SWT dalam ayat-ayat Kauniyah-Nya,”jelasnya.

Kepada alumni IAIN Batusangkar tertompang harapan dari marjoni untuk kampus tercinta. Dia berharap agar alumni terus tingkatkan keilmuannya dengan melanjutkan kuliah ke S2 Dan S3. Selalu berupaya mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk meringankan permasalahan bangsa ini. Tetap dan selalu menjadi agent of social change dimanapun berada. Menjaga nama baik almamater, berinteraksi dimasyarakat dengan mencerminkan akhlaqul karimah dan berikan uswah kepada lingkungan setempat. Terakhir terus mendukung kampus IAIN Batusangkar tercinta ini mencapai visi misinya melalui kiprah para alumni dimasyarakat. Sosialisasikan terus IAIN Batusangkar dimanapun berada.