Wabah Covid-19 Memberi Kesempatan Bumi Mengisi Energi
Oleh: Dr. Marjoni Imamora, M.Sc. Rektor IAIN Batusangkar

By Doni Okta 19 Jul 2021, 15:46:59 WIB Akademik
Wabah Covid-19 Memberi Kesempatan Bumi Mengisi Energi

Keterangan Gambar : Dr. Marjoni Imamora, M.Sc. Rektor IAIN Batusangkar


"orang - orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."(Ali Imran: 191)

Terjadinya pendemi Covid-19 banyak memberikan dampak di berbagai bidang dan sektor kehidupan manusia. Adapun dampak yang terlihat dan dirasakan adalah di sektor ekonomi dan sosial. Kedua sektor ini dipandang, banyak mendapatkan dampak yang negatif diakibatkan pendemi Covid-19, sehingga berbagai kebijakan terjadinya dari dampak tersebut memperburuk situasi yang menjadikan masyarakat memahami bahwa pendemi Covid-19 memperburuk keadaan dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Adanya kebijakan pembatasan sosial membuat masyarakat prihatin suramnnya komunikasi masyarakat yang tehambat dengan adanya pendemi. Belum lagi, dengan adanya penghambatan sosial ini memberikan masyarakat lumpuh dalam sektor perekonomian. Hal ini memberikan efek melemahnya ekonomi mikro dan berdampak juga pada sektor ekonomi makro masyarakat, baik wilayah regional maupun negara.

Akibat dari dampak negatif yang sering dilihat dan dirasakan oleh masyarakat menjadikan masyarakat lupa dengan dampak positif pendemi Covid-19 yang juga memberikan dampak yang positif di dalam kehidupan masyarakat. Pernahkan kita merenungkan bagaimana lingkungan kita mendapatkan kesempatan dengan berkurangnya aktivitas manusia yang merusak lingkungan? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan melihat bagaimana bumi dapat bernafas lega dengan berkurangnya aktivitas penambangan, berkurangnya aktivitas pencemaran polusi, dan aktivitas lainnya yang membuat membuat letih dengan pengurasan pada sumber daya alam. Salah satu contohnya yang dapat kita lihat dari sektor minyak bumi dan gas alam. Sektor ini, selama masa pendemi mengalami penurunan permintaan diakibatkan menurunnya penggunaan masyarakat. Hal ini memberikan ruang gerak bagi bumi untuk memperbaharui sumber dayanya dan memperpanjang jangka waktu habisnya sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dari data yang didapatkan diakibatkan pembatasan masyarakat, telah terjadi pada tahun 2020, industri minyak dan gas bumi, mengalami penurunan permintaan, penurunan harga, kelebihan produksi (walaupun produksi menurun).

Banyaknya masyarakat yang menetap di rumah, dengan berbagai aktivitas, yakninya, belajar di rumah, bekerja di rumah, dan berbelanja dari rumah serta berpergian baik dalam negeri ataupun ke luar negeri. Selain itu, sektor kegiatan lainnya seperti perkantoran, hotel, tempat konferensi berkurang dan juga kegiatan di industry manufaktur, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) Ini menjadikan sangat menguntungkan bagi bumi sendiri. Hal ini membuat minyak alam dan gas bumi menjadi menurun penggunaanya.  

Perkiraan DOE (Department of Energy) di Amerika menunjukkan permintaan minyak mentah yang sudah mulai terjadi pada kuartal pertama tahun 2020, akan terus menurun hingga mencapai titik terbawahnya pada akhir kuartal ke-2, kemudian diperkirakan naik lagi dan mencapai titik keseimbangannya dengan pasokan (supply) minyak bumi pada akhir kuartal ke-3 tahun 2020. Dalam masa penurunan permintaan tersebut, minyak yang dikonsumsi akan berkurang hingga lebih 10 juta barel per hari, atau bahkan 15-20 juta barel per hari. Atau sekitar 20%-30% menurut beberapa analisis yang lain. Namun permasalahan dengan minyak (mentah dan BBM) bukan hanya permintaannya yang menurun drastis, namun juga harganya yang turun, bahkan hingga mencapai yang terendah yang pernah dialami oleh industri minyak dunia. Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) yang menjadi “benchmark” bagi harga minyak di Amerika Utara, bahkan dijual di futures market dengan harga di bawah US$ -36.67 untuk delivery bulan Mei 2020.

Kejadian tersebut memberikan ruang gerak bagi bumi untuk tidak terus dieksploitasi sumber dayanya, sehingga energy yang dimiliki oleh bumi dapat dimaksimalkan manfaatnya untuk pemakaian selanjutnya. Disamping itu pula, selain minyak bumi dan gas alam, adanya hal positif yang diterima bumi adalah pulihnya kadar oksigen akibat berkurangnya polusi udara dari kendaraan bermotor. Sejak Covid-19 memberikan dampak berbagai sektor kehidupan manusia, bumi sebagai dari bagian dari sistem tata surya merasakan hal yang terbalik dengan keadaan manusia. Bumi tempat manusia menapakkan kaki mengalami kepulihan luar biasa. Diantara kepulihan tersebut terlihat pada jumlah emisi CO2 atau polusi udara akibat sumbangan asap transportasi yang mulai berkurang. Di Indonesia, kebijakan PSBB dan yang terakhir PPKM yang diusulkan oleh pemerintah telah berhasil membuat ruang gerak manusia menjadi terbatas sehingga aktivitas transportasi menjadi berkurang dan imbasnya asap transportasi menjadi berkurang. Darma dan Kristina (2020) menyatakan bahwa akibat adanya Covid-19, penurunan polusi udara dari beberapa kota besar terjadi di dunia. Tercatat ada penurunan hampir 50% polusi udara yang berkurang selama masa virus Covid-19 yang menyerang dunia (Saadat et al., 2020). Di Indonesia, penerapan PSBB ataupun PPKM dan berkurangnya kendaraan yang melintas di Jabodetabek membuat kualitas udara semakin membaik (Siregar et al., 2020). Keadaan ini dengan jelas memberikan kualitas udara menjadi dapat dimaksimalkan.

Hal lain yang dirasakan manfaatnya adalah sejumlah peneliti menyatakan lubang pada lapisan ozon di atas Antartika terus mengalami pemulihan. Pemulihan ini terjadi akibat berkurangnya penggunaan CFC pada kulkas dan botol spray. Perbaikan ozon pun ini telah mengubah sirkulasi udara di atmosfer. Hal ini berpengaruh pada temperatur atmosfer, cuaca, tingkat curah hujan, serta dapat menyebabkan perubahan suhu laut dan konsentrasi garam. Lapisan ozon adalah bagian dari atmosfer yang ada di lapisan stratosfer Bumi. Lapisan ini melindungi warga Bumi dari radiasi ultraviolet dari Matahari. Tanpa lapisan pelindung radiasi ini, nyaris tak ada yang bisa bertahan hidup di Bumi. Salah seorang peneliti dari Universitas Colorado Boulder, Antara Banerjee mengaku menggunakan data dari pengamatan satelit dan simulasi iklim untuk mendeteksi pemulihan ozon. Banerjee, dkk, juga memodelkan perubahan pola angin terkait dengan pemulihan lapisan ozon.

Jadi bisa dikatakan bahwa, bukan hanya dampak negatif saja yang dirasakan dimasa pendemi, namun perlu di renungkan juga hal positif yang dirasakan oleh bumi adalah kesempatannya dalam memulihkan dan memperbaiki energy.